Pages

Selasa, 30 Desember 2008

Ini blog kedua setelah masalah tentang tanah. Kalau yang pertama saya didesikan untuk jurusan ilmu tanah, maka yang kedua kali ini saya dedikasikan untuk Kendari. Saya bukannya mau narsis mau cerita tentang segala yang indah-indah dari Kendari. Tapi dalam blog saya kali, saya berniat untuk melampiaskan segala kenangan indah saya bersama kota kecil yang tercinta ini. Here we go...............
WAKTU SD
Terlebih dahulu perkenalkan nama saya Sinthya Pertiwi Doko. Kata ibu huruf awal nama saya berasal dari nama bapak. Jadi itulah mengapa kami bersaudara dinamakan berdasarkan nama Bapak. Bapak sendiri bernama Suhardin. Maka kedua adik pun diberi nama Hari dan Dina (masing-masing dari kata Har dan Din). Tapi bagi saya dulu nama ini cukup bermasalah. Bukan nama depan ataupun tengah tapi nama belakang yang menandakan bahwa saya merupakan klan dari keluarga Doko. What is the problem? Di Kendari Doko memiliki dua arti yang berbeda. Pertama Doko berarti kue dan yang kedua Doko berarti ngambek. Jadi karena kedua arti yang lucu itu, sewaktu SD teman-teman suka sekali meledek, doko-doko (ini nama kue) atau pedoko.......pedoko......pedoko (kalau yang ini kata sifat yang artinya tukang ngambek). Tapi its okay.
Sebagai seorang anak-anak, jiwa bertualang terasa sangat besar. Kalau para pembaca pernah menonton acara BOLANG di Trans 7 maka seperti itu pula potret anak-anak Kendari saat itu dan saat ini. Berteman dengan banyak anak lorong (dulu wilayah-wilayah kami tinggal banyak dinamakan dengan lorong-lorong misal lorong jati) memberikan keuntungan yang berharga, yaitu petualangan dari gunung sampai laut. Asal pembaca ketahui Kendari merupakan kota yang kecil, bila berjalan beberapa Km maka kita akan mendapatkan laut dan ketika berjalan berlawanan arah dengan laut kita akan mendapatkan hutan yang Masya Allah hari ini masih ada walaupun sudah diotak-atik. Waktu SD saya tinggal di Kemaraya di atas gunung yang kini sudah menjadi hotel saat ini (kalau tidak salah namanya Hotel Almaira). Waktu itu sangat indah sekali. Karena di atas gunung maka saya dan keluarga bisa melihat pemandangan laut dan lampu-lampu jalan raya di bawah rumah.
Karena di atas gunung maka petualangan saya tentunya dimulai di atas gunung. Kebetulan saat itu ada keluarga yang tinggal bersama kami. Sebenarnya ada banyak keluarga yang tinggal dan kemudian pergi, salah satunya Tanowi. Tanowi cukup lama tinggal bersama kami. Tanowi sering pergi mencari kayu bakar di hutan dan saya pernah ikut dengan tujuan mencari jambu mete. Salah satu yang unik dari jambu mete dipusat kota Kendari adalah tidak ada yang pernah tahu kapan dan siapa yang menanam. Mungkin angin yang membawa bibit-bibit jambu mete itu. Di dalam hutan bersama Tanowi ada banyak hewan yang kami saksikan. Ada biawak (yang saat itu dicurigai sebagai hewan yang bertanggung jawab sebagai predator pemakan ayam warga), ayam hutan (yang entah saat ini apakah masih ada). Sebenarnya ular ada tapi saat itu kami jarang menemukannya di hutan malah saya sering melihatnya di undakan di sekitar rumah yang saat itu benar-benar membuat shock. How about the trees? Yah saat itu ada banyak jenis pepohonan di sekitar hutan dekat rumah. Ada pohon jati tapi kebanyakan pohon jambu mete. Pohon-pohonnya lumayan besar cukup mengerikan apabila digunakan sebagai bumbu-bumbu cerita horor di sekitar rumah. Ada juga mangga liar yang keberadaannya hampir mirip dengan jambu mete, juga lobe-lobe, bahkan coklat yang pohonnya cuma beberapa namun dapat mencapai seliter dan cukup untuk dijual. Walupun cukup jauh pernah masuk ke hutan saya belum pernah mengetahui dimana hutan belakang rumah berujung tapi dilihat dari landscapenya, hutan-hutan kendari cukup luas rupanya.
Waktu SD saya punya teman karib sebangku. Jamria namanya. Senang sekali rasanya mengingat masa-masa itu. Semuanya serba apa adanya. Asal ada lapangan semua permainan menjadi mengasikkan. Enggo sembunyi misalnya. Kami bersembunyi dan berusaha mengenggokan benteng. Tapi bersama Jamria saya diajak ke hutan lain. Hutan yang lain ini berlokasi dibelakang rumahnya. Ada hal romantis yang saya selalu perhatikan bersama keluarga Jamria. Kedua orang tuannya selalu bersama mencari kayu bakar dan jambu mete. Saudara-saudaranya pun kadang ikut. Teman-teman sekitar rumah Jamria biasa menyebut jurang untuk kawasan hutan tersebut. Jadi kalau ada yang mengajak ke jurang maka artinya ajakan untuk masuk ke hutan. Sebenarnya sebutan jurang cukup beralasan. Ada jurang di dalam hutan itu. Sepertinya merupakan bekas longsoran. Tapi kami senang bermain di sana. Kami bisa melihat jalan raya dan beberapa bagian kota Kendari. Tapi alasan yang lebih mengasyikkan adalah kami akan mencari jambu mete di hutan itu.

Kamis, 11 Desember 2008

TANAH ITU PENTING

Tau nggak sih kalau tanah itu penting ? mungkin tidak semua orang menganggap mempelajari tanah adalah sesuatu yang penting (terkecuali anda seorang ahli tanah atau sedang mempelajari tanah). saya sendiri adalah orang yang baru 3 tahun mempelajari tentang tanah (thanks to all lecture in my departement). walau baru 3 tahun, cukuplah semuanya membuat bergidik. kok bisaaa ? dari mempelajari Dasar-dasar Ilmu Tanah sampe Survey dan Pemetaan Tanah semuanya membahas masalah lingkungan dan pertanian. Satu hal yang terpikir, "Ya Allah betapa tanah Indonesia punya masalah yang serius". Mulai dari erosi, kemasaman (baik yang disebabkan Al dan Fe maupun pirit), pemupukan yang tidak seimbang, bahkan masalah perairan.
Waktu pertama memilih ilmu tanah terus terang dari dalam lubuk hati yang terdalam hanya semata-mata untuk menghindari segala perhitungan yang pernah dikecap selama SMA. Tapi saya salah. Biologi, Kimia, dan Fisika masih nongkrong dengan manis menghiasi KRS yang sedang kejar setoran. Tapi tenang, kali ini ketiganya dihadirkan dalam sudut pandang berbeda. Jadi bagi saya yang dulunya selalu menganggap ketiga bidang ilmu tersebut hanya mengisi memori kepala , berhasil dengan sukses menyadari bahwa ketiganya penting untuk memahami mengapa tanah itu penting untuk dipelajari. Terima kasih kepada dosen-dosen yang begitu berdedukasi mengajarkan dan memberikan pemahaman, mengapa anak-anak Indonesia (saya kan anak Indonesia ceritanya) perlu mempelajari Ilmu Tanah.
Dulu teman-teman dari jurusan lain banyak menanyakan Ilmu Tanah itu belajar tentang apa sih ? Penting nggak seeh ? Secara hari gini pertanian tuh udah canggih, ada hidroponik, aeroponilk, kultur jaringan, dan lain-lain. Saya hanya bisa mengangguk-nganggukan kepala. Yang artinya " iya sih". Tapi itu dulu kawan. Sekarang saya sudah bisa menjelaskan mengapa penting untuk belajar ilmu tanah. Banyak alasan yang saya kemukakan, misalnya:
  • manusia kalau diperiksa bisa menjelaskan bagian mana dari badannya yang mengalami gangguan. Kalau tanah masa' saya tanyakan pada rumput yang bergoyang. ini jawaban yang biasanya bagi orang-orang yang masih menganggap jurusan-jurusan kesehatan merupakan favorit bagi semua perguruan tinggi.
  • tahukah kau kawan mengenai cerita siklus air. Apakah benar kalau saya katakan bila tidak ada tanah di muka bumi maka siklus air tidak akan berjalan dengan semestinya. kalau jawaban ini biasanya telak. Dan sekarang bukan saya lagi yang mengangguk-angguk.

waktu mengikuti kelas genesis, Prof. chris pernah menjelaskan bahwa kita bisa menebak keadaan tanah dari karakteristik orang-orang yang berdiam di atasnya. Misalnya orang di Jeneponto (daerah di Makassar). Tipikal orang-orangnya keras. Hubungan dengan tanahnya apa ? Tanah-tanah di Jeneponto berordo Vertisol (berasal dari kata verter). Tanah ini sangat sulit untuk diolah petaninya tidak memakai cangkul lagi untuk mengangkat tanahnya. Para petani bekerja keras dengan sekuat tenaganya untuk mengolah tanahnya. So, begitu ceritanya alamlah yang membentuk karakteristik petani-petani ini.

Namun, untuk berbagai masalah yang dibicarakan sebelumnya, Indonesia memang memiliki berbagai macam masalah yang berhubungan dengan tanah. Pada saat mengambil DDIT (Dasar-Dasar Ilmu Tanah), saya lebih memahami bahwa masalah tanah Indonesia adalah erosi. Namun karena baru semester dua dimana penindasan menjadi maba masih terasa hanya erosi yang terpikirkan di kepala bahwa di Indonesia itu masalahnya hanya erosi. Erosi di Indonesia merupakan momok yang menakutkan (paling tidak itu perkiraan saya). Dalam erosi terdapat tiga proses yang terjadi yaitu:

  • pengikisan partikel tanah: ketika hujan yang rintik-rintik jatuh ke tanah jangan pernah berpikir bahwa efeknya hanya segede upil. Hujan yang rintik-rintik itu walaupun sedikit mampu memencarkan partikel tanah pada permukaannya. Yang artinya menghancurkan struktur tanah dan memisahkan partikel tanah. Nah kalau yang rintik kecil aja segitu kalau yang hujan lebat gimana
  • transportasi: hujan tidak hanya masuk ke dalam tanah. Ada juga yang jalan di atas permukaan tanah istilah kerennya run off. Waktu run off terjadi di permukaan, air tidak hanya membawa partikel tanah, ada kemungkinan air juga turut membawa bahan organik dan unsur hara (yang immobil). So, jangan pernah bingung kalau ada orang tanah yang menyatakan tanah Indonesia itu kurang subur. Saya juga sempat kaget waktu salah satu dosen mengatakan bahwa tanah Indonesia itu kurang subur, secara Indonesia itu negara agraris. Tapi kalau dilihat kenyataannya yang seperti ini emang sih.
  • sedimentasi: nah run off ada kalanya berhenti pada suatu tempat. Kapankah itu? pas, ketemu dengan suatu wilayah yang agak datar maka run off akan berhenti dan so pastinya materi-materi yang terbawa turut mengendap pada tempat itu.

Masalah erosi memang salah satu yang cukup pelik (menurut saya). Saking peliknya sampai sekarang belum ada satupun rumus erosi yang dianggap paling sesuai untuk menganalisa jumlah erosi yang terjadi pada setiap tahunnya. Waktu belajar mengenai erosi kami diperkenalkan dengan rumus USLE. Namun, rumus ini belum dapat mencakup permasalahan erosi yang ada di Indonesia. Untuk penjelasannya nanti deh saya tanyakan dulu ke dosen.

Selain erosi, kemasaman tanah juga merupakan salah satu yang menjadi masalah di Indonesia. Waktu SMA di SMA 1 Kendari, ibu Nurhayati (guru kimia saya), mengajarkan bagaimana mengetahui pH suatu cairan dengan menggunakan kertas lakmus dan ekstrak bunga. Yang ingin saya katakan adalah saya dulu tidak mengerti apa pentingnya saya belajar masalah pH? Yang saya mengerti saat itu adalah pH 7 sama artinya dengan netral, lebih dari 7 basa, kurang dari 7 masam (dulu saya menyebutnya asam). Lain tempat lain adatnya, di ilmu tanah penyebutan untuk asam dan basa diganti menjadi masam dan alkalis. Sekarang saya baru mengerti bahwa semuanya sungguh sangat berguna. Masalah pada tanah masam (tanah walaupun juga pada kondisi alkalis) adalah unsur hara tidak tersedia dengan baik. Pada tanah masam, P tidak tersedia bagi tanah. Apa sebab? hal ini disebabkan kandungan Al dan Fe mengikat P pada kondisi pH masam (dan pada kondisi basa P terikat dengan Ca). Kondisi masam pada tanah tidak hanya disebabkan oleh basa-basa yang tercuci namun dapat juga karena adanya mineral Pirit (FeS) sebagaai akibat dari endapan yang terbawa oleh air laut. Kalau kemasaman yang diakibatkan oleh pirit biasanya terjadi di daerah-daerah pesisir. Proses terjadinya pirit sendiri diakibatkan oleh adanya kondisi pasang-surut di daerah pesisir. Jadi, pada saat air laut pasang biasanya membawa garam-garam. Dan salah satunya mungkin garam-garam yang mengandung S. Sulfur ini kemudian bereaksi dengan besi (Fe) membentuk pirit. Ada lagi nih campur tangan unsur lain. Ketika pirit bereaksi dengan oksigen, menyebabkan kemasaman tanah terjadi. Oksigen ini menyebabkan pirit menjadi Jarosit.